:::: MENU ::::

Thursday, September 22, 2016


Arbor Azure adalah blog yang dibuat dengan tujuan untuk memudahkan siswa maupun mahasiswa dalam mencari referensi ilmu yang dibutuhkan. Sehingga dalam penerapannya Arbor Azure berusaha menyajikan informasi yang akurat dan dilengkapi dengan referensi yang jelas dari buku dan tentu saja referensi yang di gunakan bisa di percaya, silahkan cek mengenai validasi dari informasi yang disediakan Arbor Azure untuk lebih menyakinkan teman-teman. Jadi, sudah bisa diprediksi bahwa konten dari makalah ini kurang lebih lengkap. Special thanks untuk RARA (Ummul Nasyirah), NUBEL (Auliyah Nurul Adiyah), dan JIAH (Hijriah) yang telah memberikan sumbangsih besar dalam proses penyelesaian makalah ini. GOMAWO. Selamat membaca terimakasih untuk tidak melakukan plagiat atau plagiarism.




KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat, kesehatan, kesempatan beserta ilmu yang di titipkan kepada kami sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini dalam bentuk yang sederhana dan kami sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangannya. Namun kami telah berupaya semampu kami untuk menyempurnakannya.
Semoga makalah yang berjudul Periodesasi Sejarah dalam Islam dapat memberi manfaat bagi mahasiswa yang ingin menambah wawasannya tentang sejarah islam. Kami sangat berharap dengan adanya makalah ini dapat menjadi ladang pahala bagi kami karena kami telah berbagi ilmu yang in syaa Allah bermanfaat ini.


Makassar, 23 September 2016

Penyusun





BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam sejarah kebudayaan ummat manusia, proses tukar-menukar dan interaksi (intermingling) atau pinjam meminjam konsep antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain memang senantiasa terjadi, seperti yang terjadi antara kebudayaan barat dan peradaban islam. Dalam proses ini selalu terdapat sikap resistensi dan akseptansi. Namun dalam kondisi dimana suatu kebudayaan itu lebih kuat dibanding yang lain yang tejadi adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah. Istilah ibn khaldun, "masyarakat yang ditaklukkan, cenderung meniru budaya penakluknya".
Ketika peradaban islam menjadi sangat kuat dan dominan pada abad pertengahan, masyarakat eropa cenderung meniru atau "berkiblat ke islam". Kini ketika giliran kebudayaan barat yang kuat dan dominan maka proses peniruan itu juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan barat dan lemahnya kekuasaan politik islam, para ilmuwan muslim belajar berbagai disiplin ilmu termasuk islam ke barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena peradaban islam dalam kondisi terhegemoni maka kemampuan menfilter konsep-konsep dalam pemikiran dan kebudayaan barat juga lemah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang terjadi pada Periode Klasik ?
2.      Apa yang terjadi pada Periode Pertengahan ?
3.      Apa yang terjadi pada Periode Modern ?

C.     Tujuan
1.      Agar mahasiswa dapat mengetahui sejarah Periode Klasik.
2.      Agar mahasiswa dapat mengetahui sejarah Periode Pertengahan.
3.      Agar mahasiswa dapat mengetahui sejarah periode Modern.




BAB II

PEMBAHASAN

A.    Periode Klasik (650-1250)
v  MASA KEMAJUAN ISLAM (650-1000 M )

1.      Khilafah Rasyidah

Nabi Muhammad tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat islam setelah beliau wafat. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat,  sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshor berkumpul di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak merasa berhak menjadi pemimpin umat islam. Namun, dengan semangat ukhuwah islamiyah yang tingi, akhirnya Abu Bakar terpilih. Rupanya semangat keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan tinggi dari ummaf islam. Sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya.
Sebagai pemimpin umat islam setelah Rasulullah, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah (pengganti Rasulullah) yang perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintah.
Abu Bakar menjadi khalifah selama 2 tahun, karena ia meninngal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap perjanjian yang dibuat Rasulullah dengan sendirinya batal setelah Rasulullah wafat. Sikap yang keras kepala mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan Abu Bakar menyelesakannya dengan perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalin Bin Walid adalah jenderal yang paling banyak berjasa dalam perang ini.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, Abu Bakar mengirim Khalid Bin Walid ke Iraq dan dapat menguasai Al-Hijrah. Ke Syria di kirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderl yaitu Abu Ubaidah, Amr ibn ‘Ash, Yasid ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipipin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid bin Walid di perintahkan meninggalkan Irak dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, a sampai d Syria.
Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan pasukan islam sedang mengancam Palestina, Irak dan kerajaan Hirah. Saat Abu Bakar sakit dan measa ajalnya sudah dekat ia mengajak sahabat untuk bermusyawarah dan mengankat Umar bin Khattab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan dikalangan umat islam. Umar menyebut dirinya Khalifah Khalifati Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amirul al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman)
            Di zaman Umar, gelombang ekspensi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi, ibu kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara  Bizantium kalah dipertempuran Yarmuk, seluruh daerah jatuh pada kekuasaan islam, dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi di teruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Iskandaria , ibu kota Mesir, di taklukkan 641 M. dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al Qadisiya, sebuah kota dekat Hijrah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, Al Madain yang jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar wilayah kekuasaan islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria dan sebagian besar wilayah Persia dan Mesir.
            Umar memerintah selama 10 tahun (13-23 H/634-644) M). masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Untuk menemukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan oleh Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi Khalifah. Enam orang  tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan Abdurrahman ibn ‘Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Usman sebagai khalifah, melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali ibn Abi Thalib.
            Di masa pemerintahan Usman ( 644-655 M), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhosdes dan bagian yang tersisa dari Persia. Transoxania dan Tabaristan berhasil direbut. Ekspansi islam pertama berhenti sampai disini.
Pemerintahan Usman berlangsung selama 11 tahun. Pada paruh terakhir kepemerintahannya muncul peasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat islam terhadapnya. Kepemimpinan Usman sangat berbeda dengan  kepemimpinan Umar. Mungkin dikarenakan usianya yang sudah menginjak 70 tahun saat di baiat dan sifatnya yang lemah lembut. Usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegiatan yang penting. Usman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan, jembatan, mesjid dan memperluas masjid nabi di Madinah.
Setelah Usman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Talib sebagai khalifah. Ali  memerintah hanya 6 tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikitpun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah Ali memecat gubernur  yang diangkat oleh Usman dan juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Usman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya ke Negara, memakai kembali system distribusi pajak tahunan di antara orang-orang islam sebagaimana pernah di terapkan oleh Umar.
Di ujung masa pemerintahan Ali, islam terpecah dengan tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut Ali), Al Khawarij ( orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Munculnya kelompok Al Khawarij menyebabkan tentara Ali semakin melemah dan posisi Mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M) Ali terbunuh oleh seorang anggota Khawarij.
Ali kemudian di ganti oleh Hasan selama beberapa bulan. Saat itu Hasan yang masih lemah sementara Mu’awiyah semakin kuat, maka Hasan membuat perjanjian damai. Disisi lain, perjanjian itu membuat Mu’awiyah menjadi penguasa absolute dalam islam. Tahun 41 H (661 M) tahun persatuan, dikenal dalam sejarah sebagai tahun Jama’ah (‘am Jama’ah ). Dengan demikian berakhilah apa yang disebut dengan masa Khulafa’ur Rasyidin dan mulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik islam.

2.      Khilafah Bani Umayyah

Kekuasaan Muawiyah menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchihediretis (kerajaan turun temurun). Kekuasaan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, deplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Sukses kepemimpinan secara turun temurun  dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anakya. Yazid, Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi  di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah Khalifah namun dia memberikan interpretasi dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut, dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam Pengertian “Penguasaan Yang di Angkat Oleh Allah”.
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota Negara di pindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Umayyah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705 M), Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abd-Aziz (717-720 M) dan Hasyim ibn Abd Al-Malik (724-743 M).
Di zaman Muawiyah, Tunisia dapat ditaklukkan. Disebelah Timur, Muawiyah dapat menguasai  daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afghanistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serang-serangan  ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke Timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd Al-Malik. Dia mengirim tentara menyebrangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawariz, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasi Balukhistan, Sind dan derah Punjab sampai ke Maltan.
Ekspansi besar-besaran dilanjutkan di zaman Al Walid ibn Abd Malik. Masa pemerintahannya aadalah masa ketentraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat islam merasa sangat bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang  lebih10 tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa yaitu pada tahun 711 M. Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian Spanyol menjadi sasaran ekspensi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova dengan cepat dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota baru Spanyol setelah jatuhnya Kordova. Kekuasaan yang cepat ini karena bantuan dari rakyat setempat karena telah lama menderita karena kekejaman penguasa. Di zaman  Umar ibn Abdul Aziz, serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini di pimpin oleh Abd Ar Rahman ibn Abdullah Al Ghafiqi. Ia mulai menyerang Bordeau, Poitiers.dari sana ia juga mencoba menyerang Tours dan ia terbunuh sementara tentaranya kembali ke Spanyol. Selain daerah yang di atas, pulau-pulau lain juga jatuh ke tangan islam pada masa Bani Umayyah.
Disamping ekspensi kekuasaan islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan diberbagai bidang. Sepeninggal  Umar ibn Abd Al Aziz, kekuasaan Bani Umayyah berada di bawah khalifah Yazid ibn Abd Al Malik (720-724). Di bawah kekuasaannya, zaman berubah menjadi kacau, kekacauan terus berlanjut hingga kekhalifahan berikutnya, Hisyam Abd Al Malik (724-743 M). bahkan kepemerintahannya bertambah kekuatan baru yang merupakan tantangan berat bagi pemerintah Bani Umayyah. Kekuatan ini berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali yang merupakan ancaman yang serius. Berikutnya, kekuatan ini mampu menggulingkan dinasti Bani Umayyah dan menggantikannya dengan dinasti baru, yaitu Bani Abbas. Sebenarnya, Hisyam adalah khilafah yang kuat dan terampil akan tetapi karena gerakan oposisi terlalu kuat khalifah tidak berdaya mematahkannya.
Akhirnya pada tahun 750 M daulat Bani Umayyah digulingkan bani abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim Al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah melarikan diri ke Mesir kemudian di tangkap dan dibunuh di sana.
3.      Khalifah Bani Abbas
Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan Bani Umayyah. Dinamakan dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al Abbas, paman Rasulullah. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al Saffah ibn Muhammad ibn Aali ibn Abdullah ibn Al Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258 M). pendiri dinasti ini Abu Al Abbas sangat singkat yaitu 750 M-754 M. karena Pembina sebenarnya dari daulat Abbasiyah adalah Abu Ja’far Al Manshur (754-775 M). dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan.
Pada mulanya ibu kota Negara adalah Al Hasyimiyah, dekat Kufah.. namun, untuk memantapkan dan menjaga stabilitas Negara yang baru berdiri itu, Al Manshur memindahkan ibu kota Negara ke kota yang baru di bangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Jadi, pusat pemerintahan Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Jika dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan di bangun oleh Abu Al Abbas dan Abu Ja’far Al-Manshur, maka puncak keemasan dinasti ini pada 7 khalifah sesudahya, yaitu Al Mahdi (775-785 M), Al Hadi (775-786 M), Harun Al Rasyid ( 786-809 M), Al Ma’mun (813-833 M), Al Mu’tashim (833-842 M), Al Wasiq (842-847 M), Al Muttawakkil (847-861 M). popularitas Abbasiyah mencapai puncaknya pada khalifah  Harun Al Rasyid (786-809 M) dan putranya Al- Ma’mun (813-833 M). kekayaan banyak dimanfaatkan oleh Harun untuk keperluan social, seperti Rumah Sakit dan lembaga pendidikan. Pada masanya paling tidak 800 orang menjadi dokter. Kemakmuran paling tinggi terwujud pada kekhilafan ini. Al Ma’mun  sebagai pengganti Harun dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta ilmu. Ia menggaji penerjemah buku-buku asing dari Yunani, mendirikan sekolah. Pada masa inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pendidikan.
Al Mu’tashim khalifah berikutnya (833-842 M), member peluang pada orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal, dinasti ini mengubah system ketentaraan. Tentara di bina secara khusu menjadi prajurit professional, sehingga militer Abbasiyah menjadi sangat kuat. Dinasti ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah. Perbedaan antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayyah adalah : 
1. Abbasiyah jauh dari pengaruh Arab, sedangkan Umayyah berorientasi kepada Arab. 
2. Masa Abbasiyah ada jabatan Wazir yang membawahi kepala-kepala department, sedangkan pada Umayyah tidak ada. 
3. Ketentaraan professional baru terbentuk pada masa pemerintahan Abbasiyah, sedangkan sebelumnya tidak ada.


v  MASA DISINTEGRASI ( 1000-1250 M)
       A.    Dinasti-Dinasti yang Membebaskan Diri Dari Baghdad

Dinasti yang membebaskan diri Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah :
1.                  Berbangsa Persia :
a.       Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820-872 M),
b.      Shafariyah di Fars (254-290 H/869-901 M),
c.       Samaniyah di Transoxania (261-389 H/873-998 M),
d.      Sajiyyah di Azerbajian (266-318 H/878-930 M),
e.   Buwaihiyyah bahkan menguasai Baghdad (320-447 H/932-1055 M).
2.                  
                       Berbangsa Turki
a. Thuluniyah di Mesir (254-292 H/837-903 M),
b. Ikhsyidiah di Turkistan (320-560 H/932-1163 M),
c. Ghaznawiyah di Afghanistan (351-585 H/969-1189 M),
d. Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya : 
1. Seljuk besar atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn Al Din Abu Thalib Tuqhrul Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522 H/1037-1127 M) 
2. Seljuk Kirman di Kirman (433-583 H/ 10401187 M) 
3. Seljuk Syria atau Syam di Syria (487-511 H/1094-1117 M) 
4. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan (511-590 H/1117-1194 M) 
5. Seljuk Rum atau Asia kecil di Asia Kecil (470-700 H/1077-1299 M).
3.                   
                      Berbangsa Kurdi
a. Al Barzuqani (348-406 H/959-1015 M),
b. Abu Ali (380-489 H/990-1095 M),
c. Ayubiyah (5640648 H/1167-1250 M).
4.                   
                       Berbangsa Arab
a. Idrisiyyah di Marokko (172-375 H/788-985 M),
b. Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M),
c. Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H/825-898 M),
d. Alawiyah di Tabaristan (250-316 H/864-928 M).
e. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H/929-1002 M),
f. Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H/1011-1150 M)
g.Ukailiyyah di Maushil (386-489 H/996-1095 M)
h.Mirdasiyyah di Aleppo (414-472 H/1023-1079 M).

5.                  Yang mengaku dirinya khilafah
a. Umawiyah di Spanyol
b. Fathimiyyah di Mesir.

Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini, sehingga banyak daerah yang memerdekakan diri yaitu :
  1. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu tingkat saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksana pemerintah sangat rendah. 
  2. Dengan profesionalisasi ankatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
   3. Keuangan Negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar pada saat kekuatan militer  menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

      B.     Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
Factor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan islam sebelumnya. Tetapi, apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
Pertumpahan darah pertama dalam islam karena perebutan kekuasaan  terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Pertama-tama, Ali menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubai dan Aisyah. Alasannya adalah Ali tidak mau membalas atas pembunuhan yang terjadi pada Usman yang dilakukan secara zalim. Namun, menurut Ahmad Syalabi, Abdullah ibn Zubair-lah yang menyebabkan terjadinya pembeontakan yang banyak membawa korban. Dia berambisi besar untuk menduduki kursi khilafah. Untuk itu, ia menghasut bibi dan ibu asuhnya yaitu Aisyah agar ia memberontak kepada Ali, agar Ali gugur dan ia dapat menggantikan posisi Ali.
Pemberontak-pemberontak yang muncul pada masa Ali ini bertujuan untuk menjatuhknnya dari kursi khilafah dan diganti oleh pemimpin pemberontak itu. Hal yang sama juga terjadi pada masa Bani Umayyah di Damaskus. Pemberontakan-pemberontakan sering terjadi diantaranya pemberontakan Husein ibn Ali, Syi’ah yang dipimpin oleh Al Mukhtar, Abdullah ibn Zubair dan terakhir pemberontakan Bani Abbas.
Perebutan kekuasaan juga terjadi di awal berdirinya Bani Abbas. Meskipun, kekhalifahan saat itu tidak berdaya namun tidak ada usaha untuk merebut kekhalifahan , mereka hanya focus pada perebutan kekuasaan. Kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Setelah  berada ditangan mereka pada periode kedua dan ketiga (334 H/945- 447- H/1055). Daulat Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Bani Buwaih.
Kemudian kekuasaan Bani Buwaih jatuh ketangan Seljuk. Bermula saat perebutan kekuasaan di dalam negeri. Pergantian kekuasaan ini juga menandakann awal periode keempat khilafah Abbasiyah. Pemerintahan Seljuk dikenal dengan nama Al Salajikah Al Kubra ( Seljuk Besar atau Seljuk Agung ).
Seljuk memiliki 5 wilayah kekuasaan, yaitu :
 1. Seljuk besar yang menguasai Khurasan, Ray, jabal, Irak, Persia dan Ahwaz. Ia merupakan induk dari yang lain. Jumlah Syaikh yang memerintah seluruhnya delapan orang.
 2. Seljuk Kirman berada di bawah kekuasaan keluarga Qawurt Bek ibn Dawud ibn Mikail ibn Seljuk. Jumlah Dyeikh yang memerintah berjumlah 12 orang.
 3. Seljuk Irak dan Kurdistan, pemimpin pertamanya adalah Mughirs Al Din Mahmud. Seljuk ini secara beturut-turut di perintah oleh 9 syeikh.
 4. Seljuk Syria, diperintah oleh keluarga Tutush ibn Alp Arselan IBN Daud ibn Mikail ibn Seljuk, jumlah syaikh yang memerintah 5 orang.
 5. Seljuk Rum, diperintah oleh keluarga Qutlumish ibn Israil ibn Seljuk dengan jumlah Syeikh yang memerintah berjumlah 17 orang.

Kelima wilayah ini dipimpin oleh gubernur yang bergelar Malik atau Syaikh. Kekuasaan dinasti Seljuk di Irak berakhir di tangan Khawarizm Syah pada tahun 590 H/199 M.

      C.    Perang Salib
        1. Perang Pertama
Musim semi pada tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Prancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel kemudian ke Palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond dan Raymond ini memperoleh kemenangan yang besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Disini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan medirikan kerajaan latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait Al-Maqdis (15 Juli 1099 M) dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya Godfrey. Setelah penaklukan Bait Al-Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104), Tripoli (1109 M), dan kota Tyre (1124 M). di Tripolo mereka mendirikan kerajaan Latin IV, rajanya adalah Reymond.

2. Perang Kedua

            Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci dan disambut positif oleh raja Prancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi gerak maju mereka di hambat oleh Nuruddi Zanki. Mereka tidak mampu memasuki Damaskuss. Nurdin Zanki wafat 1174 M dan di gantikan oleh Shalhah Al Din dan mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir 1175 M, hasil peperangan  yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M.
            Jatuhnya Yerussalem ketangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka menyusun encana pembalasan yang dipimpin Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lion Hart raja Inggris dan Philip Augustus raja Prancis. Mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan kerajaan Latin dan tidak berhasil merebut Palestina. Tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dan Shalah disebut dengan Shulh al Ramlah, bahwa orang Kristen pergi berziarah di baitul Maqdis tidak akan di ganggu.

3. Perang Ketiga
            Tentara Salib kali ini dipimpin oleh raja Jerman Frederick II, mereka berusaha merebut Mesir sebelum Palestina. Dengan harapan dapat bantuan orang-orang Kristen Qibthi. Tahun 1219 M, mereka berhasil merebut Dimyat. Rajanya saat itu Al Malik Al Kamil, mereka membuat kesepakatan Frederick melepas Dimyat dan Al Malik melepas Palestina. Namun, pada tahun 1247 Palestina berhasil di rebut kembali. Dan pada pimpinan Baybars dan Qalawun , Akka behasil di rebut kembali pada tahun 1291 M.


D. Sebab-Sebab Kemunduran Pemerintahan Bani Abbas

1.      Persaingan Antar Bangsa
2.      Kemorosotan Ekonomi
3.      Konflik Keagamaan
4.      Ancaman Dari Luar.

B.      PERIODE PERTENGAHAN (1250-1800 M)
Periode ini dapat dibagi kedalam dua masa, Masa kemunduran 1 dan Masa tiga kerajaan besar.

    v  MASA KEMUNDURAN (1250-1500)
Pada zaman ini Jenghiz Khan dan keturunannya datang menghancurkan dunia islam. Jenghiz Khan berasal dari mongolia. Setelah menduduki Peking di tahun1212 M, ia mengalihkan serangan-serangannya ke arah barat. Satu demi satu kerajaan-kerajaan islam jatuh ke tangannya.  Transoxania dan Khawarizm dikalahkan di tahun 1219/1220 M. Kerajaan Ghazna pada tahun 1221 M, Azerbaijan pada tahun 1223 M dan Saljuk di Asia kecil pada tahun 1243 M, dari sini ia meneruskan serangan-serangannya ke Eropa dan Rusia.
Serangan ke Baghdad dilakukan oleh cucunya Hulagu Khan, terlebih dahulu ia mengalahkan Khurasan di Persia dan kemudian menghancurkan Hasysyasyin di Alamut. Khalifah dan keluarga serta sebagian besar penduduk di bunuh. Beberapa dari anggota keluarga Bani Abbasiyah dapat melarikan diri dan diantaranya ada yang menetap di Mesir. Dari sini Hulagu meneruskan serangannya ke syiria dan dari syiria ia ingin memasuki Mesir, akan tetapi di Ain Laut (goliath) ia dapat dikalahkan oleh Baybars, Jendral Mamluk dari Mesir ditahun 1260 M.
Baghdad dan daerah yang ditaklukkan oleh Hulagu selanjutnya di perintah oleh Dinasti Ilkhan (gelar yang diberikan kepada Hulagu). Daerah yang dikuasai ialah daerah yang terletak antara Asia Kecil di barat dan india timur. Hulagu dan anaknya Abaga masuk kristen (1265-1281 M). Di antara keterunannya yang pertama masuk islam adalah cucunya Tagudar dengan nama Ahmad, tetapi mendapat banyak tantangan dari para jendralnya.
Ghasan Mahmud (1295-1305 M) juga masuk islam dan juga Uljaytu Khuda Banda (1305-1316 M). Uljaytu awalnya beragama kristen , ia adalah Raja Mongol besar yang terakhir. Kerajaan yang dibentuk Hulagu akhirnya pecah menjadi beberapa kerajaan kecil, diantaranya Kerajaan Jaylar (1336-1411 M) dan Baghdad sebagai ibu kota, Kerajaan Salghari (1148-1282 M) di Faris, dan Kerajaan Muzaffari (1313-1393 M) di Faris.
Timur Lenk, seseorang yang berasal dari keturunan Jenghiz Khan dapat menguasai Samarkand pada tahun 1369 M, dan berkuasa sampai pertengahan kedua dari abad ke 15. Di kota-kota yang telah ditundukkan, Timur Lenk membangun Piramida dari tengkorak rakyat yang dibunuh.
Di Mesir, khilafah Fathimiyah digantikan oleh Dinasti Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1174 M. Dengan datangnya Shalahuddin, Mesir kembali masuk ke aliran Sunni. Aliran syi’ah hilang dengan hilangnya Fhatimiyah. Shalahuddin dikenal dalam sejarah sebagai pahlawan islam dalam perang Salib. Dinasti Al-Ayyubi jatuh pada tahun 1250 M dan kekuasaan di Mesir berpindah ke tangan kaum Mamluk. Kaum Mamluk ini berasal dari budak-budak yang kemudian mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan Mesir. Kaum Mamluk ini berkuasa di Mesir sampai tahun 1517 M, merekalah yang membebaskan Mesir dan Syiria dari peperangan Salib dan juga yang membendung serangan-setangan kaum Mongol dibawah pimpinan Hulagu dan Timur Lenk, sehingga Mesir terlepas dari serangan seperti yang terjadi di dunia islam lain.
Di India, persaingan dan peperangan merebut kekuasaan juga selalu terjadi sehingga India senantiasa menghadapi perubahan penguasa. Di Spanyol juga mengalami peperangan antara dinasti-dinasti islam yang ada disana dengan Raja-raja kristen. Di dalam peperangan itu raja-raja kristen menggunakan politik adu-domba antara dinasti-dinasti islam tersebut. Sebaliknya, raja-raja kristen bergabung menjadi satu dan dinasti-dinasti islam terkalahkan. Cordova jatuh pada tahun 1238 M, Sevilla di tahun 1248 M, dan akhirnya Granada jatuh pada tahun 1491 M. Pada saat itu umat islam dihadapkan pada dua pilihan, masuk kristen atau keluar dari spanyol. Ditahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di Spanyol.


   v  MASA TIGA KERAJAAN BESAR (1500-1800 M) 
   a.      Fase Kemajuan (1500-1700 M)
1.           Kerajaan Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari khabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian persia dan irak. Mereka masuk islam abad kesembilan atau kesepuluh, setelah mereka menetap di Asia tengah. Putra dari Ertoghrul bernama Usman di anggap sebagai pendiri Kerajaan Usmani. Usman memerintah antara 1290 M dan 1326 M. Pada tahun 1300 M, bangsa mongol menyerang kerajaan seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut juga Usman I.
 Setelah Usman I mengemukakan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar keluarga usman) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Pada masa pemerintahan Orkhan (726 H/1326 M-761 H/1359 M) kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua eropa yang pertama kali diduduki oleh Kerajaan Usmani. Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru, macedonia, sopia, salonia, dan seluruh wilayah bagian utara yunani.
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke konstantinopel, tentara Mongol yang di pimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di antara tahun 1402 M. Tentara turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M. Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani.

2.             Kerajaan Safawi di Persia
Ketika kerajaan Usmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri sendiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota kecil di Azarbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus di pertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
Safi Al-Din berasala dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari imam Syia’ah yang keenam, Musa Al-Kazhim.

3.       Kerajaan Mughal di India
Kerajaan Mughal di India dengan delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya, ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, ismail I akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand tahun 1494 M. Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul, ibu kota Afganistan.
Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa india dilanda krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat khan (gubernur lahore) mengirim utusan ke Kabul, meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim di Delhi. Permohonan itu lansung diterimanya.
Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 21 April 1526 M, terjadilah pertempuran yang dahsyat di panipat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya disana. Dengan demikian, berdirilah Kerajaan Mughal di India. 



BAB III

PENUTUP


     a.       Kesimpulan
Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab Al-Hadharah Al-Islamiyyah. Kata dalam bahasa Arab ini sering kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam.Di Indonesia seringkali disinonimkan dua kata antara “ kebudayaan dan peradaban “. Namun dalam perkembangan ilmu Antropologi sekarang, kedua istilah tersebut telah dibedakan.
Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan peradaban lebih berkaitan Manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis. Kebudayaan lebih direflesasikan dalam seni, sastra, religi, dan moral. Sedangkan peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi
Priode sejarah peradaban islam
-          Priode klasik
-          Priode petengahan
-          Pride modern

b.      Saran
Belajar dari masa lalu merupakan sesuatu yang perlu kita lakukan. Dari uraian di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus berusaha dengan maksimal agar bisa membuat perubahan. Di samping itu kita sebagai umat Islam juga harus bisa menjaga persatuan dan kesatuan agar musuh-musuh Islam tidak bisa menghancurkan kita.




DAFTAR PUSTAKA



Dr. Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II,  ( Jakarta, Rajawali Pers, 2014)


       Sebagian besar makalah ini bersumber dari referensi yang tertera di atas, jika ada pihak yang merasa kami mengutip tulisannya tanpa mencantumkan sumber mohon dikonfirmasikan kepada kami demi menjaga kualitas tulisan kami.

           

           




Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment