:::: MENU ::::

Sunday, January 29, 2017

Arbor Azure adalah blog yang dibuat dengan tujuan untuk memudahkan siswa maupun mahasiswa dalam mencari referensi ilmu yang dibutuhkan. Sehingga dalam penerapannya Arbor Azure berusaha menyajikan informasi yang akurat dan dilengkapi dengan referensi yang jelas dari buku dan tentu saja referensi yang di gunakan bisa dipertanggung jawabkan, silahkan cek mengenai validasi dari informasi yang disediakan Arbor Azure untuk lebih menyakinkan teman-teman. Well jika teman-teman mencari referensi mengenai "PERADABAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN" maka blog ini menyediakan informasi mengenai hal tersebut. Blog ini menyajikan materi tersebut di sertai dengan daftar pustaka dari buku yang umum di gunakan. Special Thanks to BUNDA (Tut Wuri Handayani), MILA (Radhiyatul Jamilah) dan KIKI (Reskiawati) yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Selamat membaca semoga bermanfaat dan terimakasih untuk tidak plagiat atau melakukan plagiarism.


 


BAB II
TINJAUAN TEORI
PERADABAN ISLAM PADA MASA KHULAFAURRASYDIN


A. MASA KHULAFAURRASYIDIN

Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan wasiat kepada seseorang untuk menneruskan kepemimpinannya walaupun agak mengejutkan tetapi nabi muhammad saw telah mengalami gangguan kesehatan sekurang kurangnya selama tiga bulan. Maka timbullah masalah suksesi yang mengakibatkan suasana politik ummat islam menjadi sangat tegang . padahl semasa hidupnya, nabi bersusah payah dan berhasil membina persaudaraan sejati yang kokoh diantarasesama pengikutnya, yaitu antara kaum muhajirin dan anshar. Dilambatkannya pemakaman jenazah beliau, menggambarkan betapa gawatnya krisis suksesi itu . ada tiga golongan yang bersaing keras dalam perebutan kepemimpinan ini yaitu Anshar, Muhajirin dan keluarga Hasyim.
Dalam pertemuan di balai pertemuan Bani Saidah di madinah, kaum anshar mencalonkan Sa’ad  bin Ubadah, pemuka Khazraj, sebagai pemimpin ummat. Sedangkan Muhajirin mendesak Abu Bakar sebagai calon mereka karena ia di pandang yang paling layak untuk menggantikan Nabi. Di pihak lain terdapat sekelompok orang yang menghendaki Ali ibn Abi Talib, karena Nabi telah menunjuk secara terang terangan sebagai penggantinya, di samping Ali adalah menantu dan kerabat Nabi.
Masing-masing golongan merasa merasa paling berhak menjadi penerus nabi namun berkat tindakan tegas dari tiga orang yaitu abu bakar as-shiddiq, umar ibn khattab dan abu ubaidah ibn jarrah yang dengan melakukan semacam kudeta (coup d’etat) terhadap kelompok memaksa abu bakar sendiri sebagai deputi Nabi. Dengan semangat ukhwah islamiyah terpilihlah Abu Bakar.
Menurut Fachruddin, Abu Bakar terpilih untuk memimpin kaum Muslimin setelah Rasulullah, disebabkan beberapa hal:
1. Dekat dengan Rasulullah baik dari ilmunya maupun persahabatannya.
2. Sahabat yang sangat dipercaya oleh Rasulullah.
3. Dipercaya oleh rakyat, sehingga beliau mendapat gelar As–Siddiq. Orang yang sangat dipercaya.
4. Seorang yang dermawan.
5. Abu Bakar adalah sahabat yang diperintah Rasulullah SAW menjadi Imam Shalat jama’ah.
6. Abu Bakar adalah orang yang pertama memeluk Islam (Fachruddin,1985:1920)
Dengan berbagai alasan dia memang merupakan pilihan ideal dia sejak pertama menjadi sahabat nabi dan juga dialah orang yang paling memahami jalan pikiran beliau. Ia adalah sahabat yang paling meamahami risalah Muhammad, bahkan ia merupakan kelompok  as-sabiqun al-awwalun yang memperoleh gelar Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Abu bakar bergelar “khafilah Rasulullah” meskipun dalam hal ini perlu di jelaskan bahwa kedudukan nabi sesungguhnya tidak akan pernah tergantikan, karena tidak ada seorang pun yang menerima ajaran Tuhan sesudah Muhammad. Sebagai penyampai wahyu yang diturunkan dan sebagai  utusan Tuhan yang tidak dapat dia ambil alih oleh seseorang. Sepeninggal Rasulullah, empat orang pengganti beliau adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari sang guru agung bagi kemajuan Islam dan ummatnya. Oleh karena itu, gelar al-khulafa ar-rasyidin yang mendapat bimbingandi jalan lurus diberikan kepada mereka.

1. ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (11-13 H/632-634 M)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-Tamimi. Di zaman pra Islam bernama Abdul Ka’bah, kemudian di ganti oleh nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang  sahabat nabi  yang utama dan dijuluki Abu Bakar (bapak pemagi) karena beliau adalah orang yang pagi-pagi betul (paling awal) memeluk ajaran Islam. Gelarnya Assiddiq di perolehnya karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama isra’ mi’raj. Nabi sering kali menunjuknya untuk mendampinginya disaat-saat penting atau jika berhalangan, rasul mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keagamaan dan atau mengurusi persoalan-persoalan aktual di Madinah. Pilihan ummat pada tokoh ini sangatlah tepat.
Hal yang menarik dari Abu Bakar yaitu bahwa pidato inaugurasi yang disampaikannya sehari setelah pengangkatanya menegaskan totalitas kepribadian dan komitmen Abu Bakar terhadap nilai-nilai islam dan strategi meraih keberhasilan tertinggi bagi ummat sepeninggal Rasulullah. Adapun kutipan pidato yang disampaikan Abu Bakar
wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal akuu bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutilah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah! Orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya. Maka hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat pada Allah dan Rasulnya, namun bilamana aku tiada mematuhhi Allah dan Rasulnya, kamu  tidaklah perlu menaatiku.”
Terpilihnya Abu Bakar telah membangun kembali kesadaran dan tekad ummat untuk bersatu melanjutkan tugas mulia Nabi. Ia menyadari bahwa kekuatan kepemimpinannya bertumpu pada komunitas yang bersatu ini, yang pertama kali menjadi perhatian khalifah adalah merealisasikan keinginan Nabi  yang hampir tidak terlaksana yaitu mengirikan ekspedisi ke perbatasan Suriah di bawah pimpinan Usamah. Hal tersebut di lakukan untuk membalas pembunuhan ayahnya, Zaid, dan kerugian yang di derita oleh ummat Islam dalam perang mu;tah. Sebagian sahabat menentang keras rencana ini, tetapi khalifah tidak peduli nyatanya ekspedisi itu sukses dan membawa pengaruh positive bagi ummat Islam, khususnya di dalam membangkitkan kepercayaan diri mereka yang nyaris pudar.
Wafatya Nabi mengakibatkan beberapa masalah bagi masyarakat muslim beberapa orng arab yang lemah imannya justru menyatakan mrtad, yaitu keluar dari  Islam. Mereka melepaskan kesetiaan dan menolak memberikan baiat kepada khalifah yang baru dan bahkan menentang agama Islam, karena mereka menganggap bahwa perjanjian-perjanjian yang di buat dengan sendirinya batal karena kematian Nabi. Mereka adalah orang- orang yang baru memasuki Islam belum cukup waktu bagi Nabi dan para sahabatnya untuk mengajari mereka prinsip-prinsip keimanan dan ajaran islam karena dalam waktu beberapa bulan tidaklah mungkin dapat mengatur pendidikan yang efektif untuk masyarakat yang tersebar di wilayah-wilayah yang sangat luas dengan sarana komunikasi yang sangat minim pada saat itu. Gerakan melepas kesetiaan tersebut disebut riddah yang berarti murtad, berarti beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula, secara politis merupakan pembangkangan  (distortion) terhadap lembaga khalifah. Sikap mereka adalah perbuatan makar yang melawan agama dan pemerintah sekligus.
Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap mereka. Mula-mula hal itu dimaksudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, lalu berkembang menjadi perang merebut kemenangan. Tindakan pembersihan juga di lakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu  dan orang-orang yang enggan membayar zakat.
Selama tahun-tahun terakhir kehidupan Nabi saw telah muncul nabi-nabi palsu di wilayah Arab bagian selatan dan tengah. Yang pertama mengaku dirinya memegang peran kenabian muncul di Yaman, ia bernama Aswad Ansi. Berikutnya ialah Musailamah Al-Kadzab, yang menyatakan bahwa nabi Muhammad telah mengangkat dirinya sebagai mitra (partner) di dalam keNabian. Penganggap lainnya adalah Tulaihah dan Sajjah Ibnu Haris, seorang wanita Dari Arab tengah.
Adapun orang-orang yang tidak mau membayar karena mereka mengnggap bahwa zakat adalah serupa pajak yang dipaksakan dan penyerahannya ke perbendaaharaan pusat di Madinah yang sama artinya dengan ‘penurunan kekuasaan’ suatu sikap yang tidak disukai oleh suku-suku Arab karena bertentangan dengan karakter mereka yang independen.
Penumpasan pada orang-orang murtad dan para pembangkang tersebut terutama setelah mendapat dukungan dari suku gatafan yang kuat ternyata banyak  menyita konsentrasi khalifah, baik secara moral maupun politik. Situasi keamanan negara Madinah menjadi kacau sehingga banyak sahabat, tidak  terkecuali Umar yang dikenal keras menganjuarkan bahwa dalam keadaan yang sangat kritis lebih baik jika mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap ini khalifah menjawab dengan marah; “ kalian begitu keras dimasa jahiliah, tetapi sekarang setelah islam, kalian menjadi lemah. Wahyu-wahyu Allah telah berhenti dan agama kita telah memperoleh kesempurnaan. Kini haruskah islam dibiarkan rusak dalam masa hidupku? Demi Allah, seandainya mereka menahan sehelai benang pun (dari zakat) saya akan memerintahkan untuk memerangi mereka.”
Dalam memerangi kaum murtad, dari kalangan kaum mislimin banyak “hafidz”  yang tewas. Dikarenakan merupakan penghafal bagian-bagian al-Qur’an, Umar cemas jika angka kematian itu bertambah, yang berarti beberapa bagian lagi  dari al-Qur’an akan musnah oleh karena itu ia menasihati Abu Bakar untuk membuat suatu kumpulan al-Qur’an. Mulanya khalifah agak ragu untuk melakukan tugas ini  karena tidak menerima otoritas dari Nabi, tetapi kemudian ia memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid bin Tsabit. Menurut jalaluddin As-Suyuti bahwa perkumpulan al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari khalifah Abu Bakar.
Peperangan melawan para pengacau tersebut meneguhkan kembali khalifah Abu Bakar sebagai “penyelamat islam” yang berhasil meyelamatkan Islam dari kekacauan dan kehancuran, dan membuat agama itu kembali memperoleh kesetiaan dari seluruh jazirah Arab. Sesudah memulihkan ketertiban didalam negeri, Abu Bakar lalu mengalihkan perhatiannya untuk memperkuat perbatasan dengan wilayah Persia dan Bizantium yang akhirnya menjurus kepada serangkaian peperangan melawan kedua kekaisaran itu.
Tentara Islam di bawah pimpinan Ussanna dan Khliad bin Waalid dikirim ke Irak dan menaklukkan Hiraah. Sedangkanke Syiria, suatu negara di utara Arab yang dikuasai Romawi Timur (bizantium), Abu Bakar mengutus empat panglima, yaitu Abu Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyn, Amr bin Ash dan Syurahbil. Ekspedisi syiria ini memang sangat besar artinya dalam konstalasi politik ummat islam karena daerah protektorat  itu merupakan front terdepan wilayah kekuasaan Islam dengan Romawi Timur. Dengan bergolaknya tanah Arab pada saat menjelang dan sesudah wafatnya Nabi, impian bangsa Romawi untuk menghancurkan dan menguasai agama Islam hidup kembali. Mereka menyokong sepenuhnya pergolakan itu serta melindungi orang-orang yang berani berbuat makar terhadap pemerintahan Madinah. Dalam peristiwa Mu’tah, bangsa Romawi bersekongkol dengan suku-suku Arab pedalaman (badui) dan orang Persia memberikan dukungan yang aktif kepada mereka untuk melawan kaum muslimin.
Ketika pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hijrah, dan telah meraih beberapa kemenangan yang dapat memberikan kepda mereka beberapa kemungkinan besar bagi keberhasilan selanjutnya, Khalifah Abu Bakar meninggal dunia pada hari senin, 23 agustus 624 M setelah kurang lebih selama 15 hari terbaring di tempat tidur. Ia berusia 63 tahun dan kekhalifahannya berlangsung 2 tahun 3 bulan 11 hari.

2. UMAR BIN KHATHTHAB (13-23 H/634-644 M)

Nama lengkap dari Umar bin Khattab adalah Umar bin Khaththab bin Naufal keturunan Abdul Uzza Alquraisy dari suku Adi, salah satu suku yang terpandang mulia. Umar di lahirkan di Mekah empat tahun sebelum kelahiran Nabi ia adalah seorang yang berbudi luhur, fasih dan adil serta pemberani. Ia ikut memelihara ternak  ayahnya, dan berdagang higga ke Syiria,. Ia juga di percaya oleh suku bangsanya, Quraisy untuk berunding dan mewakilinya jika ada persoalan dengan suku-suku lain. Umar masuk Islam pada tahun kelima setelah keNabian, dan menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi serta dijadikan sebagai tempat rujukan oleh Nabi mengenai hal-hal yang penting. Ia dapat memecahkan masalah yang rumit tentang siapa yang berhak mengganti Rasulullah dalam memimpin ummat seetelah wafatnya Rasulullah. Dengan memilih dan membaiat Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah sehingga ia mendapat penghormatan yang tinggi dan dimintai nasihatnya serta menjadi tangan kanan khalifah yang baru itu. Sebelum meninggal dunia, Abu Bakar telah menunjuk Umar bin Khattab menjadi penerusnya. Rupanya masa dua tahun bagi khalifah Abu Bakar belumlah cukup menjamin stabilitas keamanan terkendali, maka penunjukan ini di maksudkan untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan di kalangan ummat Islam, ketika Umar telah menjadi khalifah, ia berkata kepada ummatnya “ orang-orang Arab seperti halnya seekor unta yang keras kepala dan ini akan bertalian dengan pengendara di mana jalan yang akan di lalui, denga nama Allah, begitulah aku akan menunjukkan kepada kamu ke jalan yang  harus engkau lalui.”
Meskipu peristiwa di angkatnya Umar sebagai khalifah itu merupakan fenomena yang baru, tetapi haruslah di catat bahwa proses peralihan kepemimpinan tetap dalam bentuk musyawarah, yaitu berupa usulan atau rekomendasi dari Abu Baakar yang di serahkan kepada persetujuan ummat Islam. Untuk menjajahi pendapat umum, khalifah Abu Bakar melakukan serangkaian konsultasi terlebih dahuluu dengan beberapa orang sahabat, antara lain Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Pada  awalny terdapat berbagai keberatan mengenai rencana pengangkatan Umar, sahabat Thalha misalnya, segera menemui Abu Bakar untuk menyampaikan rasa kecewanya. Namun, karena Umar adalah orang yang paling tepat untuk menduduki kursi kekhalifahan, maka pengangkatan Umar mendapat persetujuan dan bai’at dari semua anggota masyarakat Islam.
Umar bin Khathathab menyebut dirinya “khalifah khalifatti Rasulillah” (pengganti dari pengganti rasulullah). Ia juga mendapat gelar  Amir Al mu’minin (pemimpin orang–orang beriman) sehubungan dengan penaklukan-penaklukan yang berlangsung pada masa pemerintahannya.
Ketika pembangkangan dalam negeri telah dikikis habis oleh khlifah Abu Bakar, dan Era penaklukan militer telah dimulai maka khalifah mengnggap bahwa tugasnya yang pertama adalah mensukseskan ekspedisi yang dirintis oleh pendahulunya. Belum lagi genap  satu tahun memerintah, Umar telah menorehkan tinta emas dalam sejarah perluasan wilayah kekuasaan ini. Pada tahun 635 M, Damaskus yng merupakan ibu kota Syiria jatuh ketangan muslimin, setelah pertempuran hebat di lembah Yarmuk di sebelah timur anak sungai Yordania, pasukan Romawi yang terkenal kuat itu tunduk kepada pasukan-pasukan Islam.
Keberhasilan pasukan Islam sebelumnya. Khallifah Abu Bakar telah mengirim pasukan besar di bawah Abu Ubaidah bin al Jarrah ke front Syiria. Ketika pasukan ini terdesak, Abu Bakar memerintahkan Khlid bin Walin yang sedang dikirim untuk memimpin pasukan ke front Irak untuk membantu pasukan di Syiria. Dengan gerakan secepat kilat Khalid menyebrangi gurun pasir luas ke arah sSiria. Ia bersama Abu Ubaidah bin Jarrah mendesak pasukan Romawi. Dalam keadaan genting itu wafatlah Khalifah Abu Bakar, dan di ganti dengan Umar bin Khaththab. Khalifah yang baru itu mempunyai kebijaksanaan lain, Khalid yang dipercaya untuk memimpin pasukan dimasa Abu Bakar dihentikan oleh Umar dan diganti oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Hal itu tidak diberitahukan kepada pasukan hingga selesai perang, dengn maksud agar tidak merusak konsentrasi dalam menghadapi musuh Damaskus jatuh kepada tengan muslimin setelah dikepung selama tujuh hari. Pasukan muslim yang dipimpin oleh Abu Ubaidah melanjutkan penaklukan ke Hamah, Qinnisrin, Laziqiyah dan Aleppo. Surahbil dan Amr bersama pasukannya meneruskan penaklukan atas Baysan dan Yerussalem, kota itu di kepung oleh pasukan muslim selama empat bulan. Sehingga akhirnya dapat di taklukkan dengan syarat harus khalifah Umar sendiri yang menerima “kunci” kota itu, karena kekhawatiran mereka terhadap  pasukan muslim yang akan menghancurkan gereja-gereja.
Dari Syiria, Pasukan kaum muslim melanjutkan langkah ke Mesir dan membuat kemenangan-kemenangan di wilayah Afrika bagian utara. Bangsa Romawi telah menguasai kota Mesir sejak tahun 30 sebelum masehi, dan menjadikan wilayah subur itu sebagai sumber pemasok gandum terpenting bagi Romawi. Berbagai macam pajak naik sehingga menimbulkan kekacauan di negeri yang pernah diperintah oleh Raja Fir’aun itu. ‘Amr bin Ash meminnta izin Khalifah Umar untuk menyerang wilayah itu, tetapi khalifah  masih ragu-ragu karena pasukan Islam masih terpencar di beberapa front pertempuran. Akhirnnya permintaan itu di kabulkan juga oleh khalifah dengan mengirim 4.000 tentara ke Mesir untuk membantu ekspedisi tersebut. Tahun 18 H pasukan muslimin mencapai kot Aris dan mendudukinya tanpa perlawanan. Kemudian menundukkan pelusium (Al-Farama), pelabuhan di pantai laut tengah yang merupakan pintu gerbang ke Mesir. Satu bulan kota itu dikepung oleh pasukan muslimin dan dapat ditaklukkan pada tahun 19 H. satu demi satu kota-kota di Mesir ditaklukkan oleh pasukan muslimin. Kota babilonion juga dapat ditundukkan pada tahun 20 H setelah 7 bulan terkepung. Cyrus, pemimpin Romawi di mesir mengajak damai dengan pasukan Islam pimpinan ‘Amr setelah melihat kebesaran dan kesungguhan pasukan muslimin untuk menguasai Mesir.
Iskandariah, ibu kota Mesir di kepung selama empat bulan sebelum ditaklukkan oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Ubadah bin Samit yang dikirim oleh khalifah di front peperangan Mesir. Cyrus menandatangani perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian tersebut berisi beberapa hal sebagai berikut.
a. Setiap warga negara diinta untuk membayar pajak perorangan sebanyak 2 dinar setiap tahun.
b. Gencatan senjata akan berlangsung selama 7 bulan.
c. Bangsa Arab akan tinggal di markasnya selama gencatan senjata dan pasukan Yunani tidak akan menyerang Iskandariah dan harus menjauhkan diri dari permusuhan.
d.  Ummat Islam tidak akan menghancurkan gereja-gereja dan tidak boleh mencampuri urusan ummat Keristen.
e. Pasukan tetap  Yunani harus meninggalkan Iskandariah dengan membawa harta benda dan uang, mereka akan membayar pajak perseorangan selama satu bulan.
f. Ummat Yunani harus tetap tinggal di Iskandariah.
g. Ummat Islam harus menjaga 150 tentara Yunani dan 50 orang sipil sebagai sandera sampai batas waktu dari perjanjian ini dilaksanakan.

Dengan jatuhnya Iskandariah maka sempurnalah penaklukan atas Mesir. Ibu kota negeri  itu dipindahkan ke kota baru yang bernama Fustat yang di bangun oleh ‘Amr bin Ash pada tahun 20 H. Masjid Amr  masih berdiri tegak di pinggiran kota Kairo hingga kini sebagai saksi sejarah yang tidak dapat di hilangkan. Dengan Syiria sebagai basis, gerak maju pasukan ke Armenia, Mesopotamia Utara, Georgia dan Azerbaijan menjadi terbuka. Demikian juga serangan-serangan kilat terhadap Asia Kecil dilakukan selama bertahun tahun setelah itu. Seperti halnya Yarmuk yang menentukan nasib Syiria, perang Qadisiah pada tahun 637 M menentukan masa depan Persia. Khalifah Umar mengirim pasukan di bawah  Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menundukkan kota itu, kemenangan yang diraih dikota itu membuka jalan bagi gerak Amju tentara muslim ke daratan Eufrat dan Tigris. Ibu kota Persia, Ctesiphon ( Madain ) yang letaknya di tepi sungai Tigris pada tahun itu juga dikuasai. Setelah dikepung selama dua bulan, Yazdagrid III, raja Persia itu melarikan diri.
Pasukan Islam kemudian mengepung Nahawan dan menundukkan Ahwaz pada tahun 22 H. tahun 641 M / 22 H seluruh wilayah Persia sempurna dikuasai. Isfahan juga di taklukkan, demikian juga Jurjan / Georgia dan Tabristan. Azerbaijan tidak luput dari kepungan pasukan muslim. Orang-orang Persia yang jumlahnya jauh lebih besar dari tentara Islam, yaitu 6 banding 1 dapat di kalahkan sehingga menyebabkan mereka menderita kerugian besar. Kaum muslimin menyebut sukses ini dengan “kemenangan dari segala kemenangan” ( fathul futuh).
Perebutan atas kekuatan yang strategis tersebut berlangsung dengan cepat dan memberi pretise di mata dunia. Suatu tenaga yang tidak diperkirakan seakan-akan di gerakkan oleh kekuatan gaib telah meluluh lantahkkan kerajaan Persia dan Romawi. Operasi-operasi militer yang ditaklukkan oleh Kahlid bin Walid, ‘Amr bin Ash dan lain-lain di Irak, Syiria, dan Mesir termasuk yang paling gemilang dalam sejarah ilmu siasat perang dan tidak kalah jika dibandingkan dengan Napoleon, Hanibal, atau Iskandar Zulkarnain.
Pusat kekuasaan Islam di Madinah mengalami perkembangan yang pesat, bersamaan dengan keberhasilan ekspansi. Khalifah Umar telah berhasil membuat dasar-dasar bagi suatu pemerintahan yang handal utuk melayani tuntutan masyarakat baru untuk berkembang. Umar mendirikan beberapa Dewan membangun baitul mal, mencetak mata uang, memebentuk kesatuan tentara untuk melindungi daerah tanpa batas, mengatur gaji, mengangkat para hakim dan menyelenggarakan “hisbah”.
Khalifah Umar juga meletakkan prinsip-prinsip demokratis dalam pemerintahannya dengan membangun jaringan pemerintahan sipil yang sempurna. Kekuasaan Umar mnjamin hak yang sama bagi setiap warga negara. Kekhalifahan bagi Umar tidak memberikan hak istimewa tertentu. Tiada istana atau pakaian kebesaran tertentu baik untuk Umar sendiri maupun untuk bawahannya sehingga tidak ada perbedaan antara penguasa dan rakyat, dan mereka setiap waktu dapat dihubungi oleh rakyat. Kehidpan khalifah memang merupakan jelmaan yang hidup dari prinsip-prinsip egaliter dan demokratis yang harus dimiliki oleh seorang kepala negara.
Ia dikenal bukan saja pandai menciptakan peraturan baru tapi juga memperbaiki dan mengkaji ulang terhadap kebijaksanaan yang telah ada jika itu diperlukan demi tercapainya kemaslahatan ummat Islam. Misalnya mengenai kepemilikan tanah-tanah yang diperolah dari satu peperangan (ganimah). Khalifah Umar membiarkan tanah digarap oleh pemiliknya sendiri di negeri yang telah ia taklukkan dan melarang kaum muslimin untuk memilikinya karena mereka menerima tunjangan dari baitul mal atau gaji dari prajurit yang masih aktif. Sebagai gantinya, atas tanah itu dikenakan pajak (al Kharaj).
Begitu pula Umar meninjau kembali bagian bagian zakat yang diperuntukkan kepada orang yang dijinakkannya hatinya mengenai syaarat-syarat pemberiannya. Khalidah Umar memerintah selama 10 tahun lebih 6 bulan 4 hari. Kematiannya sangat tragis, seorang budak bangsa Persia bernama Fairuz atau Abu Lu’luah secara tiba-tiba menyerang dengan tikaman pisau tajam kearaah khalifah yang akan mendirikan shalat shubuh yang telah di tunggu oleh jama’ahnya di masjid Nabawi di pagi buta itu. Khalifah terluka parah, dari pembaringannya ia mengangkat “syura” (komisi pemilihan) yang akan memilih penerus tongkat kekhalifahannya. Khalifah Umar wafat tiga hari setelah peritiwa penikaman atas dirinya, yakni 1 muharram 23 H/644 M.

3. UTSMAN BIN AFFAN (23-36 H/644-656 M)

Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan yang memiliki nama lengkap Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyaah dari suku Quraisy. Ia memeluk Islam karena ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat Nabi. Ia sangat kaya tetapi berlaku sederhana, dan sebagian besar kekayaannya digunakann untuk kepentingan Islam. Ia mendapat julukan zun nurain yang berarti memiliki dua cahaya karena menikahi dua putri Nabi secara berurutan setelah yang satu meninggal, ia juga merasakan penderitaan yang disebabkan oleh kaum Quraisy terhadap muslimin di Mekah, dan ikut hijrah ke Abesenia beserta istrinya. Utsman menyummbang 950 ekor  unta dan 50 bagal serta 1000 dirham dalam ekspedisi melawan Bizantium di perbatasan Palestina. Ia juga membeli mata air orang-orang Romawi yang terkenal untuk selanjutnya di wakafkan bagi kepentingan ummat Islam, dan pernah meriwayatkan hadits kurang lebih 150 hadits. Seperti halnya Umar, Utsman di angkat menjadi khalifah melalui proses pemilihan. Bedanya Umar di pilih atas penunjukan langsung sedangkan Utsman diangkat atas penunjukkan tidak langsung, yaitu melewati badan syura yang dibentuk oleh Umar menjelang wafatnya.
Khalifah Umar membentuk sebuah komisi yang terdiri dari enam orang calon, dengan perintah memilih salah seorang dari mereka untuk di angkat menjadi khalifah baru. Mereka ialah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah,  Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah ditambahkan kepada komisi enam itu, tetapi ia hanya mempunyai hak pilih, dan tidak berhak dipilih.
Melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali, sidang syura akhirnya memberi  mandat kekhalifahan kepada Utsman bin Affan. Masa pemerintahannya adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman para khalifah rasyidah, yaitu 12 tahun tetapi sejarah mencatat tidak seluruh masa kekuasaannya menjadi saat yang baik dan sukses baginya. Para penulis sejarah membagi zaman pemerintahan utsman menjadi dua periode, yaitu 6 tahun pertama merupakan masa kejayaan pemerintahannya dan tahun terakhir masa pemerintahan yang buruk.
Pada masa-masa awal pemerintahanya, Utsman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai Islam seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencanakan secara cermat dan simultan di semua front. Di Mesir pasukan muslim diinstruksikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu pertempuran penting disini ialah “zatis sawari” (peperangan tiang kapal) yang terjadi di laut tengah dekat kota Iskandariah, antara tentara Romawi di bawah pimpinan Kaisar Constantin dengan laskar muslim pimpinan Abullah bin Abi Sarah. Dinamakan perang kapal karena banyaknya kapal-kapal perang yang  digunakan dalam peperangan tsb. Pasukan Islam berhasil mengusir pasukan lawan, pasukan Islam bergerak dari kota Basrah untuk menakklukkan sisa wilayah kerajaan sasan di Irak, dan dari kota Kufah, gelombang kaum muslimin menyerbu beberpa provinsi disekitar laut Kaspia.
Karya monumental Utsman lain yang dipersembahkan kepada ummat Islam ialah penyusunan kitab suci al-Qur’an. Penyusunan al-Qur’an di maksudkan untuk  mengakhiri perbedaan-perbedaan serius dalam bacaan al-Qur’an. disebutkan bahwa selama pengiriman ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan tentang bacaan al-Qur’an muncul dikalangan tentara muslim, dimana sebagiannya direkrut dari Suriah dan sebagian yang lain dari Irak. Ketua dewan penyusunan al-Qur’an yaitu Zaid bin Tsabit, sedangkan yangg mengumpulkan tulisan-tulisan  al-Qur’an antara lain Hafsah, salah seorang istri Nabi. Kemudian dewan itu membuat beberapa salinan naskah al-Qur’an untuk dikirim keberbagai wilayah kegubernuran  sebagai pedoman yang benar untuk masa selanjutnya.
Setelah melewati saat-saat yang gemilang pada paruh terakhir masa kekusanya, khalifah Utsman menghadapi berbagai pemberontakan dan pembangkangan di dalam negeri yang dilakukan oleh orang-orang yg kecewa terhadap tabiat khalifah dan beberapa kebijaksanaan pemerintahannya. Tetapi, sebenarnya kekacauan itu sudah dimulai sejak pertama tokoh ini terpilih menjadi khalifah. Utsman terpilih karena sebagai calon konservatif, dia adalah orang yang baik dan shaleh, namun dalam banyak hal kurang menguntungkan, karena Utsman terlalu terikat dengan kepentingan-kepentingan orang Mekah, khususnya kaum Quraisy dari kalangan Bani Umayyah. Kemenangan Utsman sekaligus adalah suatu kesempatan  yang baik bagi kaum sanak saudaranya  dari keluarga besar Bani Umayyah. Oleh karena itu utsman berada dalam pengaruh dominasi seperti itu maka satu persatu kedudukan tinggi kekhalifahan diduduki oleh anggota-anggota keluarga itu sendiri.
Kelemahan dan nepotisme telah membawa khalifah ke puncak kebencian rakyat, yang pada bebrapa waktu kemudian menjadi pertikaiann yang mengerikan di kalangan umat Islam. Ketika Utsman mengangkat Marwan bin Hakam, sepupu khalifah yang dituduh sebagai orang ynag mementingkan diri sendiri dan suka intrik menjadi sekretaris utamanya, segera timbul mositidak percaya dari rakyat. Begitu pula penempatan Muawiyah, Wlid bin Uqbah dan Abdullah bin Sa’ad masing-masing menjadi Gubernur Suriah, Irak, dan Mesir, sangat tidak disukai oleh umum. Ditambah lagi tuduhan-tuduhan keras bahwa kerabat khalifah memperoleh harta pribadi dengan mengorbankan kekayaan umum dan tanah negara. Hakam  ayah Marwan mendapatkan tanah fadah, Marwan sendiri menyalah gunakan harta baitul mal, Uawiyah mengambil alih tanah negara Suriah dan khalifah mengizinkan abdullah untuk mengambil seperlima dari harta rampasan perang tripoi untuk dirinya dan lain-lain.
Situasi politik di akhir masa pemerintaha Utsman benar-benar semakin mencekam. Bahkan juga berbagai usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan kuat untuk kemaslahatan ummat disalahpahami dan melahirkan perawanan dari masyarakat. Kodifikasi al-Quran tersebut misalnya, yang dimaksudkan oleh khalifah untuk menyelesaikan kesimpangsiuran bacaan al-Qur’an sehingga perbedaan serius mengenai kitab suci dapat dihindari, telah mengundang kecaman yang sangat hebat melebihi dari apa yang mungkin tidak diduga. Lawan-lawannya menuduh bahwa Utsman sama sekali tidak mempunyai otoritas untuk menerapkan edisi al-Qur’an yang dibukukan itu. Dengan kata lain, mereka mendakwa Utsman secara tidak benar telah menggunakan kekuasaan keagamaan yang tidak dimilikinya.
Terhadap berbagai kecaman tersebut, khalifah telah berupaya untuk membela diri dan melakukan tindakan politis sebatas kemampuan. Tentang pemborosan uang negara misalnya, Utsman menepis keras tduhan keji ini, benar jika dikatakan ia banyak membantu saudara-saudaranya dari Bani Umayyah, tetapi itu diambil dari  kekayaan pribadinya  sama sekali bukan dari kas negara, bahkan khalifah tidak mengambil gaji yang menjadi haknya pada saat menjabat khalifah, justru Utsman jatuh miskin. Selain karena harta yang ia miliki digunakan untuk membantu sanak familinya, juga karena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi perasalahan kaum muslimin, sehingga tidak ada lagi kesempatan mengumpulkan harta seperti di masa sebelum menjadi khalifah.
Dalam hal ini Utsman berkata “pada saat pencapaianku menjadi khlifah, aku adalah pemilik kambing dan unta yang paling banyak di Arab. Hari ini aku tidak memiliki kambing atau unta kecuali yang digunakan dalam ibadah haji. Tentang penyokong mereka, aku memberikan kepada mereka apapun yang dapat aku berikan dari milikku pribadi. Tentang harta kekayaan negara, aku menganggapnya tidak halal baik bagi diriku sendiri maupu orang lain. Aku tidak mengambil apapun dari kekayaan negara, apa yang aku makan adalah ahasil nafkahku sendiri”
Rasa tidak puas terhadap khalifah Utsman semakin besar dan menyeluruh. Di Kufah dan Basrah, yang dikuasai oleh Talhah dan Zubair, rakyat bangkit menentang gubernur yang diangkat oleh khalifah. Hasutan yang lebih keras terjadi di Mesir, selain ketidak setiaan rakyat terhadap Abdulah bin Sa’ad, saudara angkat khalifah, sebagai pengganti gubernur ‘Amr bin Ash juga karena konflik soal pembagian ghanimah  pemberontakan berhasil mengusir gubernur  yang diangkat khalifah, lalu mereka yang terdiri dari 600 orang Mesir  itu berarak-arakan menuju ke Madinah. Para pemberontak dari Basrah dan Kufah bertemu dan menggabungkan diri dengan kelompok dari Mesir. Wakil-wakil mereka menuntut khalifah untuk mendengarkan keluhan mereka. Khalifah menuruti kemauan mereka dengan mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur di Mesir. Mereka merasa puas atas kebijaksanaan khalifah tersebut dan pulang ke negeri masing-masing. Akan tetapi, ditengah jalan para pemberontak menemukan surat yang dibawa oleh utusan khusus yang menerangkan bahwa para wakil  itu harus di bunuh setelah sampai di Mesir. Menurut mereka surat itu ditulis oleh Marwan bin Hakam, sekertaris khalifah  sehingga mereka meminta Marwan diserahkan pada pemberontak. Tuntutan itu di penuhi oleh khalifah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalan damai, tetapi mereka tidak dapat menerimanya. Mereka mengepung rumah khalifah, dan membunuhnya ketika khalifah Utsman sedang membaca Al-Qur’an, pada tahun 35 H/17 M. Akan tetapi, menurut Lewis, pusat oposisi sebenarnya adalah di Madinah sendiri. Di sini Thalhah, Zubair, dan Amr membuat perlawanan rahasia melawan khalifah, dengan memanfaatkan para pemberontak yang datang ke Madinah untuk melampiaskan rasa dendamnya yang meluap-luap itu.

4. ALI BIN ABI THALIB (36-41 H/656-661 M)

Khalifah keempat adalah Ali bin Abi Thalib. Ali adalah keponakan dan menantu Nabi. Ali adalah putra Abi thalib bin Abdul Muthalib. Ia adalah sepupu Nabi yang telah ikut bersamanya sejak bahaya kelaparan mengancam kota Mekah, demi untuk membantu keluarga pamannya. Abbas, paman Nabi yang lain membantu Abu Thalib dengan memelihara ja’far, anak Abu Thalib yang lain. Ia telah masuk Islam pada  usia yang sangat muda. Ketika Nabi menerima wahyu yang pertama, menurut Hasan Ibrahim, Hasan Ali berumur 13 tahun, atau 9 tahun menurut Mahmudunassir. Ia menemani Nabi dalam perjuangan menegakkan Islam, baik di Mekah maupun  di Madinah, dan ia diambil menantu oleh Nabi dengan menikahkannya dengan Fatimah, salah seorang putri Rasulullah, ia tidak berkesempatan membaiat abu bakar sebagai khalifah, tetapi ia baru membaiatnya setelah Fatimah wafat.
Ali adalah seorang yang memiliki banyak kelebihan, selain itu ia adalah pemegang kekuasaan. Pribadinya penuh dengan vitalitas dan energik, perumus kebijakan dengan wawasan yang jauh ke depan. Ia adalah pahlawan yang gagah berani, penasihat yang bijaksana, penasihat hukum yang ulung, dan pemegang teguh tradisi, seorang sahabat sejati, dan seorang lawan yang dermawan. Ia telah bekerja keras sampai akhir hayatnya dan merupakan orang kedua yang berpengaruh setelah nabi Muhammad.
Beberapa hari pembunuhan Utsman, stabilitas keamanan kota Madinah menjadi rawan. Gafiqy bin Harb memegang keamanan ibu kota Islam itu selama kira-kira lima hari sampai terpilihnya khalifah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib tampil menggantikan Utsman, menerima baiat dari sejumlah kaum muslimin. Kota Madinah saat itu sedang kosong, para sahabat banyak yang berkunjung ke wilayah-wilayah  yang baru di  taklukkan. Sehingga hanya beberapa sahabat yang masih berada  di Madinah, antara lain Talhah bin Ubaidillah  bin Zubair bin Awwam. Sedangkan tidak semua sahabat tersebut menyokong Ali. Oleh karena itu Ali pun menanyakan keberadaan mereka karena merekalah yang berhak menentukan siapa perang badar. Maka muncullah Thalhah, Zubair, dan Sa’ad membaiat Ali yang kemudian diikuti oleh banyak orang, baik dari kalangan Anshar maupun Muhajirin, dan yang paling awal membaiat Ali adalah Thalhah bin Ubaidillah.
Tugas pertama yang dilakukan oleh khalifah Ali adalah menghidupkan cita-cita Abu Bakar dan Umar, menarik kembali semua tanah dan hibah yang telah dibagikan oleh Utsman kepada kaum kerabatnya kedalam kepemilikan negara. Ali juga segera menurunkan semua gubernur yang tidak disenangi rakyat. Utsman bin Hanif diangkat menjadi penguasa Basrah menggantikan Ibnu Amir, dan Qais bin Sa’ad dikirim ke mesir untuk menggantikan gubernur negeri itu yang di jabat oleh Abdullah. Gubernur suriah, Muawiyah, juga diminta meletakkan jabatan, tetapi ia menolak perintah Ali, bahkan ia tidak mengakui kekhalifahannya.
Oposisi terhadap khalifah secara terang-terangan dimulai oleh Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Meskipun masing-masing mempunyai alasan pribadi sehubungan dengan penentangan terhadap  Ali, mereka sepakat menuntut khalifah segera menghukum para  pembunuh Utsman. Tuntutan yang sama juga diajukan oleh Muawiyah, bahkan ia memanfaatkan peristiwa berdarah itu untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan  Ali, dengan membangkitkan  kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai orang yang mendalangi pembunuhan Utsman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang sesungguhnya.
Akan tetapi, tuntutan mereka tidak mungkin dikabulkan oleh Ali. Pertama  karena tugas utama yang mendesak dilakukan dalam situasi kritis yang penuh intimidasi seperti saat itu ialah memulihkan ketertiban dan mengonsolidasikan keduduka kekhalifahan. Kedua, menghukum para pembunuh bukanlah perkara mudah, khalifah Utsman tidak dibunuh oleh hanya satu orang, melainkan banyak orang dari Mesir, Irak, dan Arab secara langsung terlibat dalam perbuatan makar tersebut.
Khalifah Ali sebenarnya ingin meghindari pertikaian dan mengajukan kompromi kepada Thalhah dan kawan-kawan, tetapi tampaknya penyelesaian damai sulit dicapai. Oleh karena itu, kontak senjata tidak dapat dielakkan lagi. Thalhah dan Zubair terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah dikembalikan ke Madinah. Peperangan ini terkenal dengan nama “ perang jamal “ (perang unta), yang terjadi pada tahun 36 H, karena dalam pertempuran tersebut Aisyah, istri Nabi mengendarai unta. Dalam pertempuran tersebut sebanyak 20.000 kaum muslimin gugur. Segera sesudah menyelesaikan gerakan Thalhah dan kawan-kawan, pusat kekuasaan Islam dipindahkan ke kota Kufah, sejak itu berakhirlah Madinah sebagai ibu kota kedaulatan Islam dan tidak ada lagi seorang khalifah yang berkuasa berdiam disana. Sekarang Ali adalah pemimpin dari seluruh wilayah Islam, kecuali Suriah.
Maka dengan dikuasainya Syiria oleh Muawiyah, yang secara terbuka menentang Ali, dan penolakannya atas perintah meletakkan jabatan gubernur, memaksa khalifah Ali untuk bertindak. Pertempuran sesama muslim terjadi lagi, yaitu antara angkatan perang Ali dan pasukan Muawiyah di kota tua Siffin, dekat sungai Eufrat, pada tahun 37 H. khalifah Ali mengerahkan 50.000 pasukan untuk menghadapi Muawiyah. Sebenarnya pihak Muawiyah telah terdesak kalah, dengan 7000 pasukannya terbunuh, yang menyebabkan mereka mengangkat al-Qur’an sebagai tanda damai dengan cara tahkim. Khalifah diwakili oleh Abu musa al-Asyari, sedangkan Muawiyah diwakili oleh ‘Amr bin Ash yang terkenal cerdik. Dalam tahkim tersebut khalifah dan Muawiyah harus meletakkan jabatan, pemilihan baru harus dilaksanakan. Abu Musa pertama kali menurunkan Ali sebagai khalifah. Akan tetapi, Amr bin Ash berlaku sebaliknya, tidak menurunkan Muawiyah tetapi justru mengangkat Muawiyah sebagai khalifah, karena Ali telah diturunkan oleh Abu Musa. Peperangan Siffin yang di akhiri melalui tahkim, yakni perselisihan yang di selesaikan oleh dua orang penengah sebagai pengadil. Namun ternyata tidak menyelesaikan masalah, kecuali menegaskan bahwa gubernur yang makar itu mempunyai kedudukan yang setingkat dengan khalifah, dan menyebabkan lahirnya golongan Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan pendukung Ali, yang berjumlah kira-kira 12.000 orang.
Kelompok Khawarij yang bemarkas di Nahrawan benar-benar merepotkan khalifah, sehingga memberikan kesempatan kepada pihak Muawiyah untuk memperkuat dan meluaskan kekuasaannya sampai mampu merebut Mesir. Akibatnya, sungguh sangat fatal bagi Ali. Tentara semakin lemah, sementara kekuatan Muawiyah bertambah besar. Keberhasilan Muawiyah mengambil provinsi Mesir, berarti merampas sumber-sumber kemakmuran dan suplai ekonomi dari pihak Ali.
Karena kekuatannya telah banyak menurun, terpaksa khalifah Ali menyetujui perjanjian damai dengan Muawiyah, yang secara politis berarti khlifah mengakui keabsahan kepemilikan Muawiyah atas Syiria dan Mesir. Kelompok Muawiyah juga berusaha sedapat mungkin untuk merebut masa Islam dari pengikut Ali, Muawiyah, dan Amr, sebab di yakini bahwa ketiga pemimpin ini merupakan sumber dari pergolakan-pergolakan yang terjadi kemudian. Tepat pada 17 Ramadhan 40 H (661 M) khalifah Ali terbunuh, pembunuhnya dalah Ibnu Muljam, seorang anggota Khawarij yang sangat fanatik. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M) masa pemerintahan Ali berakhir.
Hasan sebagai anak tertua Ali mengambil alih kedudukan ayahnya sebagai khalifah kurang lebih selama lima bulan. Tentaraya dikalahkan oleh pasukan Syiria, dan para pendukungnya di Irak meninggalkannya sehingga dengan demikian tidak dapat lebih lama lagi mempertahankan kekuasaannya, kemudian turun takhta. Syarat-syarat yang tercantum dalam perjanjian perdamaian menjadikan Muawiyah penguasa absolut dalam wilayah kerajan Arab. Pada bulan rabiuts  tsani tahun 4 H (661 M) Muawiyah memasuki kota Kufah yang oleh Ali dipilih sebagai pusat kekuasaannya. Sumpah kesetiaan diucapkan kepadanya di hadapan dua putra Ali, Hasan dan Husain. Rakyat berkerumun di sekelilingnya sehingga pada tahun 4 H di sebut sebagai ‘Amul Jama’ah,  tahun jama’ah.

B. KEMAJUAN PERADABAN PADA MASA KHULAFAURRASYIDIN

Masa kekuasaan khulafaurrasyidin yang dimulai sejak Abu Bakar Ash-Shidiq hingga Ali bin Abi Thalib, merupakan masa kekuasaan khalifah Islam yang berhasil dalam mengembngkn wilayah Islam lebih luas. Nabi Muhammad yang telah meletakkan dasar agama Islam di Arab, setelah beliau wafat, gagasan ide-idenya diteruskan oleh para Khulafaurrasyidin dalam waktu yang relatif singkat telah membuahkan hasil yang gilang gemilang. Dari hanya wilayah Arabia, ekspansi kekuasaan Islam menembus ke luar Arabia memasuki wilayah-wilayah Afrika, Syiria, Persia, bahkan menembus ke Bizantium dan India. Ekspedisi ke negeri-negeri yang sangat jauh dari kekuasaan, dalam waktu tidak lebih dari setengah abad merupakan kemenangan menakjubkan dari  suatu bangsa yang sebelumnya tidak pernah memiliki pengalaman politik yang memadai.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ekspansi itu demikian, antara lain
1. Islam, di samping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan, juga agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat.
2. Dalam dada para sahabat Nabi tertanam keyakinan yang sangat kuat tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran islam (dakwah) ke seluruh penjuru dunia.
3. Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai timur tengah pada waktu itu mulai memasuki masa kemunduran dan kelemahan.
4. Pertentangan aliran  agama di wilayah Bizantium mengakibatkan hilangnya kemerdekaan beragama bagi rakyat.
5. Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpatik dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agaamanya dan masuk islam.
6. Bangsa sami di syiria dan palestina, dan bangsa hami di mesir memandang bangsa arab lebih dekat kepada mereka daripada bangsa eropa, bizantiuum, yang memerintah mereka.
7. Mesir, Syiria, dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya. Kekayaan itu membantu penguasa islam untuk membiyayai ekspansi ke daerah yang lebih jauh.

Pada masa kekuasaan para Khulafaurrasyidin, banyak kemajuan peradaban telah dicapai. Di antaranya adalah munculnya gerakan pemikiran dalam Islam. Diantaranya gerakan pemikiran yang menonjol pada masa Khulafaurrasyidin adalah sebagai berikut.
a. Menjaga kautuhan Alqur’an Al-karim dan mengumpulkannya dalam bentuk mushaf pada masa Abu Bakar.
b. Memberlakukan mushaf standar pda masa Utsman bin Affan.
c. Keseriusan mereka untuk mencari serta mengajarkan ilmu dan memerangi kebodohan berislam para penduduk negeri.
d. Sebagian orang yang tidak senang kepada islam, terutama dari pihak orientalis abad ke-19 banyak yang mempelajari fenomena futuhat al islaiyah  dan menafsirkannya dengan motif dbendawi. Mereka mengatakan bahwa  futuhat adalah perang dengan motif ekonomi, yaitu mencari dan mengeruk kekayaan negeri yang ditudukkan. Interpretasi ini tidak sesuai dengan kenyataan sejarah yang berbicara bahwa berperangnya sahabat adalah karena iman yang bersemayam  di dada mereka.
e. Islam pada awal tidak mengenal pemisahan antara dakwah dan negara, antara da’i maupun  panglima.

Disamping itu, dalam hal peradaban juga terbentuk organisasi negara atau lembaga-lembaga yang dimiliki pemerintahan kaum muslimin sebagai pendukung kemaslahatan kaum muslimin. Organisasi negara tersebut telah dibina lebih sempurna, telah dijadikan sebagai suatu nizham yang mempunyai alat-alat perlengkapan dan lembaga-lembaga menurut ukuran zamannya telah cukup baik.
Dr. Hasan Ibrahim dalam bukunya “tarikh al-islam as-siyasi” menjelaskan bahwa organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga negara yang ada pada masa Khulafaurrasyidin, diantaranya;
a. Lembaga politik
Termasuk dalam lembaga politik khilafah (jabatan kepala negara), wizarah(kementrian negara), dan kitabah (sekretaris negara).
b. Lembaga tata usaha negara
Termasuk dalam urusan lembaga tata usaha negara, idaratul aqalim( pengelolaan pemerintah daerah) dan diwan ( pengurusan departemen) seperti diwan kharaj ( kantor urusan keuangan), dawanul barid (kantor urusan pos), dan departemen lainnya.
c. Lembaga keuangan negara
Yang termasuk adalah urusan-urusan keuangan dalam masalah ketentaraan, baik angkatan perang maupun angkatan laut, serta perlengkapann dan persenjataannya.
d. Lembaga kehakiman negara
Termasuk dalamnya adalah urusan-urusan mengenai qadhi (pengadilan negeri), madhalim( pengadilan banding) dan hisabah (pengadilan yang bersifat lurus dan terkadang juga perkara pidana yang memerlukan pengurusan segera.



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Ada empat peristiwa yang terjadi pada masa Abu Bakar Ash shiddiq yaitu wafatnya Rasulullah saw (rabiul awal) , perang riddah,  perang yarmuk, Abu Bakar wafat ( jumadil akhir). Pada masa Umar bin Khattab yaitu penaklukan damaskus, perang qadisiyah, penaklukan persia, penaklukan mesir, perang nahawand, dan penaklukan khurasan, persia. Pada masa Utsman bin Affan yaitu penaklukan tarablusi dan afrika, penaklukan Cyprus, perang Dzatu sawari, dan khurusan kembali ditaklukkan, wafatnya Utsman. Dan pada masa Ali bin Abi Thalib yaitu perang jamal, perang siffin dan tahkim, perang Nahawan, dan wafatnya Ali bin Abi thalib. Semuanya berlangsung mulai dari tahun 11 H sampa dengan 41 H.

B.  Saran
Demikian makalah ini kami persembahkan. Semoga para pembaca, terutama dosen mata kuliah ini dapat  merasa puas dengan hasil dari makalah ini. kami minta saran untuk menuju yang lebih sempurna atas perbaikan-baikan yang di lakukan.


DAFTAR PUSTAKA

Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos.
Munir Amin, Samsul. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Shaban, M.A. 1993. Sejarah Islam. Jakarta: citra niaga Rajawali Pers.
https://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/islam-masa-khulafaur-raosyidin.pdf

       Sebagian besar makalah ini bersumber dari referensi yang tertera di atas, jika ada pihak yang merasa kami mengutip tulisannya tanpa mencantumkan sumber mohon dikonfirmasikan kepada kami demi menjaga kualitas tulisan kami.
 

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment